PENGALAMAN MENJADI SUSTER TMM

Bagikan kepada teman-teman anda ...


( oleh : Sr. Magdalena Folatfindu TMM )
Saat terindah merenungkan perjalanan panggilan nan suci ini, pantas saya panjatkan
puji syukur kepada Tuhan atas kasih setiaNya yang senantiasa menyertai saya hingga saat ini
dan atas campur tangan-Nya dalam setiap peristiwa hidup saya. Benih panggilan yang Tuhan
taburkan dalam keluarga melalui kedua orangtua saya telah bertumbuh dan berkembang
sampai sekarang. Tak terasa kini 32 tahun saya jalani Hidup Membiara bersama teman
seangkatan dalam panggilan khususnya dan Consuster umumnya.. Masih 8 tahun lagi saya
bersama teman seangkatan akan merayakan 40 Tahun (Panca Windu ) Hidup Membiara.
Dalam perjalanan panggilan selama ini saya sungguh merasakan kebahagiaan batin
yang didasari relasi intens dengan Yesus melalui doa secara pribadi maupun bersama.
Kebahagiaan itu terpancar dalam senyum saya, walau terkadang saya tampakkan senyum
belimbing. Bagi saya pribadi sangat important sangat penting mempunyai kedekatan yang
intens dengan Yesus melalui Perayaan Ekaristi, Adorasi sembah sujud kepada Sakramen Maha
Kudus, doa Kerahiman Ilahi untuk selalu mohon kerahiman Hati Yesus atas segala dosa dan
salah yang saya perbuat dan juga doa-doa yang lain. Jadi intinya hidup kita sebagai seorang
Suster harus dilandasi dengan doa. Dan sebagai seorang Suster TMM yang menyandang nama
Maria harus juga hidup seperti Maria. Yang saya perjuangkan terus menerus adalah berusaha
agar mengikuti contoh dan teladan Bunda Maria yang pasrah pada kehendak Tuhan, rendah
hati, sederhana dan gembira, peka dalam setiap situasi dan peristiwa, suka menghibur,
menolong dan membahagiakan orang lain, positif thingking terhadap orang lain. Saya
sungguh–sungguh merasakan doa saya selalu Yesus kabulkan, Yesus selalu peduli dan campur
tangan dalam setiap peristiwa hidup saya sehingga saya menjalani hidup panggilan ini dengan
cerah ceria dan masih setia sampai saat ini. Namun tidak selamanya saya berjalan di jalan yang
mulus menyenangkan tetapi terkadang mencucurkan air mata melewati jalan yang terjal dan
berliku-liku penuh kerikil-kerikil tajam serta terbentur dinding aneka ragam tantangan dan
kesulitan.
Warta Mediatrix Edisi Januari-April 2015 /Hal. 17
Dalam perjalanan dari waktu ke waktu, saya ingin memaparkan percikan-percikan
pengalaman saya sebagai seorang Suster TMM. Pada saat saya diterima mengikrarkan Kaul
Pertama dalam Tarekat Maria Mediatrix, saya langsung ditempatkan di Komunitas TMM
Ohoinol bersama seorang teman seangkatan yakni Sr. Willibrordi Leftungun TMM. Desa
Ohoinol desa yang kecil mungil tetapi memberikan kebahagiaan dan makna tersendiri bagi saya
secara pribadi dan menggugah hati saya untuk menciptakan sebuah puisi dengan judul
“KEINDAHAN ALAM OHOINOL”. dan dimuat dalam majalah TMM tahun 1982 yang saat itu
nama majalah “GABRIEL”. Alam Desa Ohoinol memang sungguh indah ketika pagi saat saya
meditasi merasa seakan diiringi dengan musik instrumentalia siulan dan kicauan burung nan
merdu yang sedang berterbangan diatas dahan sambil menyaksikan fajar mulai menyingsing di
ufuk Timur, sangat menyenangkan dan memberikan kedamaian batin. Setelah dari Ohoinol saya
dimutasikan ke Langgur untuk tugas belajar, dari Langgur ke Jakarta untuk tugas belajar, dari
Jakarta ke Yogya untuk tugas belajar setelah selesai study dimutasikan ke Ambon langsung
mulai berkarya untuk pertama kali dengan tugas sebagai (Sekpri) Sekretaris Pribadi Uskup
Diosis Amboina Mgr. Andreas Sol MSC tahun 1991 kemudian lanjut sebagai Sekretaris Pribadi
untuk Uskup Baru Mgr. P.C. Mandagi MSC tahun 1994. Pada tahun 1997 Wakil Pemimpin
Umum saat itu Sr. Bernadetha Weleurat TMM meninggal dunia sehingga Sekretaris Tarekat Sr.
Petra Orun TMM dipilih sebagai Wakil Pemimpin Umum dan saya menggantikannya sebagai
Sekretaris Tarekat. Tahun 1999 saya diberi tugas belajar di Jerman di Gothe Institut Schwäbisch
Hall di Stutgart. Setelah kembali ke Indonesia saya ditugaskan sebagai Ekonom Tarekat
beberapa bulan menjelang Kapitel tahun 2001. Tahun 2002 saya ditugaskan bekerja di Crisis
Center Keuskupan Amboina bersama P. Fred Sarkol MSC dan P. Agus Ulahayanan Pr. Tahun
2004 saya ditugaskan membantu Uskup Emeritus Andreas Sol MSC di Perpustakaan Rumphius.
Tahun 2009 saya ditugaskan menemani Pemimpin Umum Sr. Josephina Nurmalay TMM ke
Jerman untuk kedua kalinya. Setelah kembali ke Indonesia tahun 2010 saya dimutasikan ke
Komunitas TMM Agats Papua Selatan dan bertugas sebagai Sekretaris Pribadi Uskup
Keuskupan Agats Mgr. Aloysius Murwito OFM.
Warta Mediatrix Edisi Januari-April 2015 /Hal. 18
Saya sungguh bahagia dan merasa mendapat banyak berkat karena dalam karya saya
sebagian besar bekerja dengan para Uskup sebagai Sekpri Uskup. Dan tahun 2013 setelah
Kapitel saya ditugaskan untuk membantu di Sekretariat Tarekat oleh Pemimpin Umum Baru Sr.
Margarethis Kelen TMM. Ini sekilas pekerjaan saya selama ini, dan saya selalu punya prinsip
ada tugas ada rahmat sehingga jenis pekerjaan apapun yang ditugaskan atau dipercayakan
kepada saya tidak pernah saya tolak tetapi menerimanya dan melaksanakan dengan sepenuh hati,
sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu. Bila disimak
pengalaman-pengalaman saya sebagi seorang Suster TMM saya bagi menjadi 3 bagian yakni
pengalaman di taman getsemani, pengalaman di gunung golgotha dan pengalaman di atas
gunung Tabor. Bahwa saya bersyukur pernah mengalami pengalaman mirip pengalaman Yesus
di Getsemani ditinggalkan sendirian menghadapi penderitaan, di golgota pernah mengalami
dicacimaki, dihina, difitna, dilukai, dipukul, diadili bahkan hampir mengorbankan panggilan.
Dalam perjalanan mengarungi samudera luas bersama Yesus dan teman seangkatan sering
menghadapi gelombang yang tinggi dan ombak yang dasyat sampai mengempaskan saya dan
teman-teman jatuh ke dalam laut dan kami menghadapinya dengan gaya kami masing-masing
dan ada seorang teman seangkatan tenggelam hilang menjelang pesta Perak. Walaupun jatuh
bangun silih berganti dalam kehidupan saya bersama teman seangkatan namun, Yesus selalu
memberikan kekuatan bagi saya dan Yesus bersabda “ Jangan takut, Aku menyertai kamu
sampai akhir zaman”. Bila saya mengalami kesulitan dan kesusahan saya hanya
mengungkapkannya kepada Yesus dalam doa saya secara pribadi. Dalam mengikuti Yesus
menjalani panggilan hidupku, banyak pengalaman dan peristiwa yang menyenangkan dan
membahagiakan, pengalaman-pengalaman indah yang saya alami bersama Yesus di atas gunung
Tabor yang membuat saya bahagia dalam panggilan, sehingga Motto Panggilan saya “TUHAN
MEMBUAT SEGALANYA INDAH PADA WAKTUNYA”. Demikian percikan pengalaman
saya sebagai seorang Suster TMM